© Hakcipta adalah terpelihara.

Monday, September 04, 2006

pluto bukan lagi planet


Pluto Terkeluar dari Sistem Suria

JOCELYN Bell-Burnell berdiri tanpa semangat. Ia sedar, petang Khamis (24/8) itu di Praha Republik Ceko, adalah hari terakhir dalam pertemuan International Astronomical Union (IAU) ke-26.

Dengan wajah serius, tangan kanannya mengangkat kertas warna kuning bertuliskan “VOTE”. Sementara tangan kirinya memeluk Pluto, boneka anjing berwarna kuning dengan telinga hitam. Dari sikapnya, nampak jelas perempuan anggota IAU itu pendukung status quo Pluto.

Dan, nyatanya Jocelyn memang harus kecewa. Undian yang dilakukan kira-kira oleh 424 ahli astronomi dari seluruh dunia itu menghasilkan keputusan dramatik sekaligus bersejarah, membuang status planet dari Pluto.

Akibatnya, Pluto–yang selama ini dikenal sebagai planet terkecil dan menempati turutan kesembilan–harus dikeluarkan dari daftar planet anggota sistem suria. Dengan demikian, berdasarkan resolusi ke-26 IAU, jumlah planet anggota sistem suria tidak lagi sembilan, melainkan hanya lapan planet.

Keputusan ini juga sekaligus mematahkan usul penambahan tiga anggota baru sistem suria iaitu Ceres, Charon, dan 2003 UB313. Ceres adalah asteroid terbesar dalam sistem suria, Charon adalah satelit (bulan), dan 2003 UB313 adalah objek yang berada di luar wilayah sistem suria dan disebut sebagai Kuiper Belt. Bersama tiga calon anggota sistem suria inilah Pluto akan “menjalani” status barunya sebagai planet kerdil.

Para ahli astronomi bersetuju definisi planet. Menurut persefahaman itu, benda angkasa disebut planet jika memiliki ukuran cukup besar dan berada tetap di garis orbitnya selama mengelilingi Matahari, serta tidak tumpang tindih dengan planet lain.

Menurut para ahli, garis orbit Pluto tumpang-tindih dengan orbit Neptunus, sehingga secara otomatik (kerana ukurannya lebih kecil) Pluto tidak lagi diklasifikasikan sebagai planet.

Keputusan dramatik itu tampaknya menjadi klimaks dari perdebatan di kalangan ahli astronomi sejak dekad 1990-an. Hingga dekad tersebut, belum ada astronomi yang berani menggugat status Pluto sebagai planet.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, khususnya kemajuan dalam teknologi teleskop, sejak tahun 1990-an para ahli astronomi menemui beberapa objek di Kuiper Belt yang berada di luar wilayah sistem suria.

Ukuran dan sifat benda-benda itu kemudian dibandingkan dengan Pluto. Dari perbandingan itulah, beberapa astronom mempunyai usul agar Pluto digolongkan ke dalam icy world kerana suhunya yang mencapai -233 darjah Celsius.

Namun, pukulan paling hebat bagi Pluto datang ketika tiga tahun lalu ditemukan suatu objek yang diidentifikasi sebagai 2003 UB313. Setelah diukur dengan teleskop Hubble, 2003 UB313 ternyata memiliki garis tengah 3.000 km. Bererti lebih panjang daripada diameternya dari Pluto. Jika dibandingkan dengan lapan planet anggota sistem suria lainnya, Pluto–yang ditemui oleh astronom AS, Clyde Tombaugh tahun 1930–memang mempunyai ukuran paling kecil.

Diameternya hanya 2.360 km atau dua kali panjang Pulau Jawa, dan memiliki gaya graviti hanya 6 peratus dari graviti bumi. Jaraknya yang sangat jauh dengan pusat sistem suria, Matahari, yakni mencapai 5,9 milion km, Pluto mengelilingi Matahari setiap 248 tahun. Sedangkan masa rotasinya (dibandingkan dengan masa rotasi Bumi) selama 6,8 hari.

Sidang IAU juga memutuskan perlunya perubahan pada sejumlah buku teks yang memuat maklumat mengenai sistem suria, bahawa planet anggota sistem suria bukan lagi sembilan, tapi lapan sahaja. IAU adalah lembaga resmi yang mengatur nomenklatur bagi dunia astronomi dan bertanggung jawab atas penamaan bintang, asteroid, planet, dan benda-benda ruang angkasa.

Meskipun demikian, bagi para ahli astronomi yang mendukung status quo Pluto, keputusan sidang IAU ke-26 di Praha itu sangat memalukan. Tidaklah menghairankan jika proses pengambilan keputusan pada akhir sidang diwarnai adegan saling gertak dan pura-pura.

Bahkan, ketika ketua komite bersetuju definisi yang diambil secara undian, sejumlah astronomi AS menilai suara mereka telah dibajak. Dr. Alan Stern, yang memimpin misi ruang angkasa AS untuk Pluto, New Horizons, berkata kepada BBC News, “Itu adalah definisi yang kejam, dan kecerobohan ilmiah”.

Terlepas dari perdebatan para ahli astronomi, keputusan melucutkan Pluto dari menganggotai sistem suria akan mengganggu masyarakat yang selama ini sudah biasa dengan buku-buku dan pengetahuan yang telah lama dibangunkan mengenai astronomi. Ini bererti, buku-buku pelajaran sains, khususnya mengenai antariksa dan astronomi, harus diperbaharui.

Mudah-mudahan saja kita akan tetap mengikuti perkembangan teknologi dan sains tanpa tergagap-gagap sehingga salah menulis buku pelajaran sekolah. (Muhtar Ibnu Thalab/”PR”/BBCNews)***

2 comments:

Rezza said...

hy puteri.. , salam kenal..... ^^ hav a nice blogging.. :)

puteri said...

hye to u too..
thanks